Culture Shock: Shock Karena Bertemu Budaya yang Berbeda

Posted on 11:56 PM by Jane Angran

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman meminta saya membantunya mereview sebuah jurnal tentang culture shock. Saya sendiri tidak familiar dengan istilah ini. Walau demikian, saya anggap ini adalah suatu tantangan baru buat saya. Belajar sekaligus membantu teman. Berikut ini adalah hasil pembelajaran saya dari beberapa literatur.

Pertama-tama, kita mulai dari definisi dulu. Apa sih yang dimaksud dengan culture shock?

Ketika kita mengatakan bahwa kita 'shock' akan suatu hal, maksudnya kita tidak menyangka bahwa hal tersebut akan datang dan kita tidak siap dengan sesuatu yang baru itu. Begitu pula dengan 'shock' budaya. Bayangkan kita datang di suatu tempat yang sama sekali belum pernah kita kunjungi di benua lain. Mereka punya jenis makanan, cara bersosialisasi, dan cara berpakaian yang berbeda dengan kita. Lalu Anda harus tinggal di tempat itu selama beberapa waktu. Beberapa orang tentunya akan mengalami shock pada awalnya. Inilah yang dimaksud dengan culture shock.

Istilah Culture Shock pertama kali diperkenalkan oleh seorang Antropolog (Ahli Antropologi) bernama Kalervo Oberg pada akhir tahun 1950-an. Oberg sendiri mendefinisikannya sebagai "penyakit" yang diderita oleh individu yang tinggal di sebuah lingkungan budaya baru. menurut Oberg, culture Shock merupakan akibat dari hilangnya tanda dan simbol budaya yang dikenal, membuat individu mengalami kecemasan, frustrasi, dan perasaaan tidak berdaya (Chapdelaine & Alexitch, 2004). Searle & Ward (Chapdelaine & Alexitch, 2004) menyebutkan bahwa Culture shock merujuk pada banyaknya tuntutan penyesuaian yang dialami individu pada level kognitif, perilaku, emosional, sosial, dan fisiologis ketika mereka ditempatkan di budaya yang berbeda. 

Hubungan lintas budaya tersebut terbagi atas dua kategori besar, yaitu yang terjadi di antara penduduk negara atau masyarakat dengan beragam budaya, dan yang terjadi ketika seseorang dari suatu masyarakat pergi ke negara lain dengan tujuan tertentu, contohnya untuk bekerja, bermain, belajar, mengeksploitasi, atau memberikan bantuan (Bochner dalam Chapdelaine & Alexitch, 2004).

Siapa saja yang mengalami culture shock?

Ward, Bochner, dan Furnham (2005) mengemukakan kelompok-kelompok yang terlibat dalam hubungan lintas budaya, di antaranya:

1. Wisatawan. World Tourism Organization (WTO) mendefinisikan turis sebagai pengunjung yang lama tinggalnya lebih dari 24 jam di sebuah lokasi yang jauh dari rumah dan yang tujuan utamanya untuk bepergian bukanlah tujuan finansial.Turis internasional bersifat jangka pendek, datang untuk berlibur, dan merupakan kelompok pendatang lintas budaya terbesar.Motif para turis untuk datang mencakup pemandangan, alam, olahraga dan seks. Meskipun demikian hanya sedikit dari mereka yang ingin mempelajari budaya. Karena interaksi antar budaya dalam budaya yang berbeda seringkali sulit dilakukan dan karena pembelajaran budaya bukanlah selalu merupakan minat utama, banyak turis memilih bepergian ke tempat di mana jumlah kontak dengan penduduk setempat terbatas. Mereka memilih untuk tinggal dengan rekan sebangsa di hotel-hotel dan tempat pesiar dengan staf yang bisa berbicara dalam bahasa mereka dan mengantisipasi kebutuhan mereka dengan akurat. Penelitian menunjukkan bahwa turis eringkali memiliki harapan yang tidak realistis dan banyak yang bereaksi buruk ketika dihadapkan dengan pengalaman 'culture shock' pada masa-masa awal liburan.

2. Sojourner atau pendatang sementara. Sojourner tinggal sementara dan oleh karena itu merupakan penduduk sementara. Seorang sojourner pergi ke luar negeri secara sukarela selama periode waktu tertentu yang biasanya berkaitang perjanjian atau kontrak tertentu. Dengan demikian seorang sukarelawan munkgin melakukan tugas ke luar negeri selama satu atau dua tahun, seorang pebisnis mungkin menerima untuk ditempatkan selama 3 atau 4 tahun, seorang misioner mungkin lebih lama, sementara anggota militer seringkali ditempatkan lebih singkat. Seorang mahasiswa internasional biasanya tetap tinggal selama durasi kesarjanaan mereka.

3. Imigran. Migran mencakup mereka yang secara sukarela berpindah tempat untuk waktu yang lama. Mereka umumnya 'ditarik' ke sebuah negara baru oleh kekuatan sosial, ekonomi, dan politik. Mayoritas imigran sangat termotivasi oleh faktor ekonomi dan biasanya berpindah dari negara yang lebih miskin ke negara yang lebih kaya. Meskipun demikian, sebagian kecil imigran memilih pindah karena alasan politis, religius, atau budaya. Para imigran seperti halnya sojourn merupakan kelompok yang sangat beragam. Terdapat variasi yang luas dalam hal jarak budaya antara masyarakat asal dan masyarakat tempat tinggal imigran.

4. Pengungsi. Pengungsi sebagai sebuah kelompok juga memainkan peranan penting dalam pertumbuhan migrasi internasional secara global. Berbeda dengan pendatang lintas budaya yang lain, pengungsi umumnya telah mengalami trauma sebelum migrasi, seperti perang sipil, genosida*, kelaparan, pemenjaraan, dan penyiksaan. Pemindahan mereka tidak secara sukarela dan mereka tidak rela dipindahkan dari negara asal mereka dan 'didorong' ke lingkungan yang asing. Mereka umumnya kurang memiliki aset finansal, juga memiliki sumber daya pendidikan dan bahasa yang terbatas dalam membantu mereka beradaptasi terhadap lingkungan baru dan berbeda budaya. Hal ini khususnya tampak pada kasus-kasus di mana pengungsi berasal dari daerah pedesaan Asia dan Afrika yang direlokasi ke pusat-pusat kota di negara-negara industri barat.

Lalu, apa yang kemudian terjadi setelah culture shock?

Ward, Bochner, dan Furnham (2005) memaparkan bahwa ketika kelompok-kelompok yang berbeda budaya saling berhubungan, maka akan ada pengaruhnya terhadap struktur sosial, perjanjian institusional, proses politik, dan sistem nilai. Individu-individu yang terlibat dalam pertemuan budaya tersebut juga terpengaruh. Pada level kelompok, terdapat empat hasil pertemuan antar budaya, yaitu genosida, asimilasi, segregasi, dan integrasi.

Genosida
Terdapat banyak contoh di masa kuno maupun dalam sejarah ketika suatu kelompok biasanya mayoritas atau yang memiliki sumber daya teknologi superior, telah membunuh atau berusaha membunuh semua anggota kelompok lain yang melakukan kontak dengan mereka. Contoh genosida bisa kita lihat pada gerakan Nazi. Pergerakan pengungsi juga seringkali merupakan hasil dari usaha genosida, dan efek dari trauma sebelum migrasi bersifat kuat dan berlangsung lama.

Asimilasi
Asimilasi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses 'menelan' sebuah budaya oleh budaya lain. Hal tersebut seringkali adalah pendekatan yang digunakan oleh kekuatan kolonial di mana mereka memaksa nilai budaya dan etika mereka pada negara-negara yang telah mereka taklukkan. Secara teknis, asimilasi merujuk pada proses di mana sebuah kelompok atau sebuah masyarakat secara bertahap mengadopsi, atau dipaksa mengadopsi kebiasaan-kebiasaan, nilai, gaya hidup, dan bahasa dari budaya yang lebih dominan.

Segregasi
Segregasi merujuk pada kebijakan perkembangan terpisah. Dorongan untuk melakukan segregasi dapat datang entah dari mayoritas dominan yang ingin mengeluarkan kelompok minoritas tertentu dari posisi-posisi, institusi, dan daerah kekuasaan penting, atau dari kelompok minoritas sendiri yang secara aktif menuntut negara bagian terpisah, daerah budaya, sekolah khusus, kepemilikan tanah berdasarkan latar belakang etnis, sanksi terhadap pernikahan antar budaya, dan lain-lain.

Integrasi
Hubungan lintas budaya hanya dapat diatasi ketika kita secara tegas mengakui bahwa kelompok-kelompok manusia berbeda dalam identitas budaya masing-masing, bahwa mereka memiliki hak untuk mempertahankan hal-hal istimewa jika mereka menginginkannya, dan bahwa prinsip ini berlaku untuk perbedaan baik dalam maupun antar masyarakat. Integrasi merujuk pada akomodasi yang terjadi ketika kelompok yang berbeda mempertahankan identitas budaya inti sementara pada waktu bersamaan juga menyatu dengan kelompok yang dominan, sama-sama saling menghormati.

Pada level individu, terdapat empat gaya respon terhadap hubungan antar budaya. (1) Seringkali individu menolak budaya asal dan mengadopsi budaya baru, khususnya di mana budaya kedua memiliki status lebih tinggi. Sebuah efek yang kadang-kadang dirujuk sebagai gaya 'mengoper'. (2) Walaupun jarang terjadi, individu akan menolak pengaruh budaya lain seperti alien, mundur kembali ke budaya asal dan menjadi nasionalis militan dan memiliki patriotisme berlebihan. (3) Respon ketiga terjadi cukup umum, yaitu individu terombang-ambing antara dua budaya, tidak merasa akrab dengan kedua budaya. sebuah efek yang kita sebut 'sindrom marginal'. (4) Beberapa orang tampaknya mampu menggabungkan identitas budaya mereka yang beragam, setara dengan integrasi pada tingkatan individu, dan memperoleh kepribadian bikultural atau multikultural yang sejati. Individu seperti itu relatif jarang, dan dirujuk oleh Bochner sebagai 'orang yang memediasi'.

*) Catatan: Genosida merupakan pemusnahan secara teratur terhadap suatu golongan bangsa.

Referensi:

Chapdelaine, R.F., & Alexitch, L.R. (2004). Social skills difficulty: model of culture shock for international graduate students. Journal of College Student Development, 45(2), 167-184. Melalui Proquest Education Journals database.

Ward, C., Bochner, S., & Furnham, A. (2005). The psychology of culture shock. Melalui Taylor & Francis e-Library.

Gambar diambil dari: Savit Keawtavee / FreeDigitalPhotos.net

2 Response to "Culture Shock: Shock Karena Bertemu Budaya yang Berbeda"

.
gravatar
Nurima Sangadji Says....

saya tertarik untuk meneliti tentang culture shock juga
apa ada link download / file jurnal yg direview diatas ?

.
gravatar
Jane Angran Says....

Hai Nurima. Terima kasih telah mengunjungi blog saya.
Jurnal di atas dapat Anda akses di Perpustakaan Nasional.
Silakan klik: http://e-resources.pnri.go.id/
Gratis menjadi anggota.

Leave A Reply

Silakan meninggalkan komentar pada form di bawah ini. No spam, no porn, stay on topic...